Sang Waktu yang Mencekik!



Lebam !

Siasat ku benar. Ada sebuah rasa yang dijatuhkan. Serupa magnet yang tak saling sentuh dan menjauh. 30 November tahun kemarin, ditengah masa berkerumun, ada sesosok utusan yang Tuhan lempar di hamparan bumi. Tepatnya di bumi ibu pertiwi. Mungkin karna Tuhan tahu waktu itu aku lagi butuh. Namun, pinta ku pada Tuhan; satukan yang harusnya kau satukan. Ku fikir pinta serta doa itu sesegera Ia kabulkan. Namun yang kutemui hanya waktu yang belum siap di pertuan. Hingga kalkulasi ku tentang waktu ku anggap cukup. Belum ada restu ternyata.

Garis waktu Sang fiersa besari tak mewakili gumam harian ku. Makanya ku maktubkannya. Aku berselisih dengan waktu. Aku hanya ingin tertawa saat semua beda dengan realita yang berkembang. Hingga ku fikir sebuah magnet tetap akan tahan jika positif dan negatif bertemu. Namun nyatanya tidak ! aku sadar akan daya tarik magnet yang bergantung pada jenis dan ukurannya. Begitu pula dengan rasa. Siapa saja bisa memilikinya tanpa harus minta izin. Sebab izin itu relatif.

26 Januari tahun ini, paradigma itu berubah. Rentang waktu yang cukup menantang. Ibarat berjalan dijalanan yang begitu terjal, jika kita mampu sabar pasti ada jalan mulus dengan garis putih lurus yang kita temui. Dan jika tidak, maka kita akan terdiam beberapa saat dijalanan terjal itu. Aku yakin itu.!. November ke Januari bagiku cukup lelah. Berjalan dengan kompas kuno hingga arah itu sering salah. 26 Januari cikal bakal Sang kapal dengan penumpang yang tak sabar ingin berlabu di pelabuhan yang terpampang samar, namun pasti di depan sama. Hanya saja, Sang nahkoda ragu. Di benaknya; benar tidak, ini pelabuhan yang hendak dituju ? Waktu belum menjawab, hingga Sang nahkoda berlabu. Ternyata ada selembar peta yang dicuri orang tak dikenal. Hanya sobekan-sobekan kecil yang tinggal. Hingga butuh waktu memastikan.

Baca Juga: Puisi Kamuflase

Sang waktu bisa saja mencekik. Aku harus hati-hati dengan waktu. Aku hanya takut rona itu pudar oleh tetesan yang melintasinya. Paradoks yang entah maknanya apa dalam peristiwa sosial. Namun aku paham betul dengan rasa yang serba salah diruang dan waktu yang beda.

Fanli Untukmu pemahamanmu, untukku pemahamanku.

0 Response to "Sang Waktu yang Mencekik!"

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel