Tabu, ngarai, dan jejak-jejak yang kehilangan bumi


"Izinkan aku menjadi wanita yang mencintaimu tanpa takut sedikitpun dengan masalalu"

Malam itu, ketika semua masalalu memaksa untuk diingat, ketika semua rencana
memaksa untuk segera dipenuhi. Aku, masih tetap menunggumu sebagai wanita yang teguh atas segala pendirian yang telah kita bangun—Maka aku tak ingin sendiri menuntaskan semua keharusan itu. Kaupun punya andil atas semua itu. Bahkan aku tak sedikitpun menyentuh lembaran-lembaran yang sudah seharusnya kita ubah letaknya. Merombak semua sisi yang masih ada kenangan masa lalu antara aku dan masa laluku—dan kamu dengan masa lalumu. Aku tak ingin merubahnya seorang diri. Bahkan, akupun tak sudi bila kau sendirian merubah dan menyingkirkan semua kenangan dengan wanita yang sempat kau cintai, dan akhirnya dia mengkhianatimu. Aku tak ingin seperti itu. Bahkan menurutku, saat ini Tuhan sejalan dengan apa yang telah aku agendakan. Yaitu; merubah dan menyingkirkan semuayang telah usang, dan tak berguna lagi, agar bisa kita tempati dengan segala kenyamanan. Kuharap kau sepenuhnya atas segala keputusanmu, tidak setengah-setengah.

Dibenakku ada banyak kemungkinan, entah karena masa lalumu yang terkenal sebagai lelaki yang tak beres bagi sebagian wanita, atau juga karena kekhawatiranku atas semua kasih sayang yang akan aku beri selepas perombakan sisi dan ruang dalam tiap hati kita. Aku takut cinta ku mubazir karena telah diberi pada orang yang salah. Namun, semoga saja semua itu tidak terjadi. Aku mengharapkanmu sebagai lelaki yang telah sampai dari kepergian menghilangkan semua sisi burukmu—dan datang sebagai jiwa yang benar-benar baru. Sebab, cemoohan tentangmu telah kelewatan, dan aku tidak bisa menghadang semua cerita buruk yang tercipta karena masalalumu yang benar-benar hancur. Bahkan, saat aku mengenalmu sebagai lelaki yang suka bermain perempuan, aku menistamu. Tapi sekarang, kau terlahir kembali sebagai lelaki yang penuh dengan tanggung jawab.

Malam semakin larut, disudut ruang dengan pencahayaan yang minim dengan segala kemungkinan dibenakku, aku masih setia menanti kabar dari seorang lelaki yang telah berpulang membawa hati yang telah dicuci dan dibersihkan dari kehancuran—dan akan diberikan padaku, sebagai hadiah istimewa atas kesediaanku menerima lelaki dengan masa lalu yang tak mungkin diterima oleh wanita pada umumnya. Namun aku yakin, bahwa semua yang hidup dan bernyawa pasti punya kesempatan untuk berubah. Berkamuflase sebagai bentuk entitas mahluk bernama manusia, yang Tuhan titip bersama catatan yang dijadikan sebagai evaluasi.

Aku masih pada posisi semula, posisi dimana semua pemikiran tentang lelaki itu kumulai hingga kugali sampai pada dasar. Tiba-tiba terdengar suara yang agak memekakan telinga.

“Nisaaa..!!” suara itu keras sekali, sekeras hati wanita yang telah tersakiti dan memilih pantang membuka peluang pada lelaki yang sama. Suara itu milik lelaki yang selalu kusebut dalam penantian. Lelaki bernama Deon dengan paras yang begitu memikat. Oleh karena parasnyalah, Deon gemar bermain wanita dan perasaan.

Baca Juga: Sebuah Langkah yang Terputus

Aku sempat tertegun, sebab sudah larut malam seperti ini tak pantas untuk seorang lelaki bertamu dikediaman wanita yang sangat ketat terhadap aturan adat dan budaya. Bahkan menurut warga setempat, jika kedapatan seorang anak gadis dengan pria yang bukan muhrim berdua-duaan maka akan dinikahkan secara adat. Dan jika tidak, berarti telah melanggar adat dikampung itu—Dan mereka yang patuh terhadap adat istiadat tersebut tak ingin mendapatkan karma atas hal tersebut.

Dengan sigap aku mengangkat badan dan mencari suara yang menurutku sangat dekat. Seluruh perasaan yang awalnya membeku, kini telah mencair dan memantapkan seluruh sirkulasi dalam tubuhku, yang sebelum itu sempat tersedak-sedak.

hey..Deon”, “kau kah itu?” aku berteriak dari arah teras rumah panggung dan tak mempedulikan sekitar, sebab rindu yang kubendung bukannya berkurang—malah tertampung dan menggenangi seluruh perasaan dan segera meminta untuk ditumpahkan.

Aku tahu bahwa itu suara Deon, sebab orang yang dirindukan selalu akan terbayang bagaimana ia bertutur hingga merayu. Semua akan teringat. Hanya saja aku ingin memastikan bahwa Deon yang  saat ini sedang menemuiku, benar-benar telah pergi mengubur segala kehancuran dan kembali sebagai lelaki yang penuh rasa prihatin dan tanggung jawab atau tidak.

“Iya aku Deon...Deon silelaki yang sering dinista atas segala masa lalu. Tapi sekarang...aku tak lagi seperti yang mereka pikirkan”, jawabnya dengan nada yang keras, mimik wajah yang seakan meminta untuk siapapun yang mendengarnya agar bisa percaya bahwa manusia pasti bisa berubah.

Aku terdiam sekitar beberapa detik dan berfikir bahwa ternyata dia tidak merubah semua yang kurang dari dirinya. Buktinya saja, dia masih sama seperti sedia kala; tidak konsisten dengan waktu. Atau mungkin lelaki dengan masa lalu yang terkenal hancur, tak tahu waktu yang seharusnya? Gumamku dengan segala kehati-hatian, sebab aku tak ingin prasangkaku sampai ketelinganya.

Menurutku saat itu tak memungkinkan untuk berbincang lama. Maka, sebagai wanita yang diharuskan patuh terhadap dogma orang-orang terdahulu, akupun tak meringankan langkah untuk menemui pria yang berdiri tepat ditaman rumah dan menghadap ke arah teras; tempatku mencurahkan segala kerisauan.

“Deon.. aku tahu kau ingin bertemu dengan ku, hanya saja ini bukan waktu yang tepat...besok saja kita bertemu”

“Kau balik saja dulu”

“Ini sudah sangat larut, lagian akupun ingin istrahat”, “kaupun juga begitukan?”

“Baiklah aku balik sekarang juga, tapi kau harus janji dulu, bahwa kau akan sudi bila kita harus bersatu. Bukan berjanji padaku, tapi pada Tuhanmu dan dirimu sendiri”. Ucap Deon dengan segenap kehati-hatian, sebab ia tak ingin semuanya keruh.

Aku menanggapinya seakan tak begitu peduli. Berlaku acuh dan menyembunyikan rindu. Walaupu aku tahu, yang kulakukan itu menyalahi perasaan satu sama lain. Sebab, rindu tak seharusnya dibungkam. Andai saja rindu bisa bertutur selayaknya, maka ia lebih buas dari para demonstran.

Dengan sesegera mungkin, kumembalik badan dan masuk meninggalkan segala kerisauanku di teras itu. Menumpahkan segala gundah hingga bercucuran sampai kepeluknya, dan tak sedikit khawatir jika dicuri oleh hati yang lain. Sebab lelaki yang sedari tadi berdiri tegak didepan sana pasti akan menjaga semua perasaan yang telah kutitip padanya.
-----
Bersambung...

Baca Juga: Prosa Menjulurkan Doa Menggantung Harap

Penulis: Fanli Mandalika (Seorang imigran yang dipaksa tinggal bersama kalimat-kalimat yang kehilangan titik)

Fanli Untukmu pemahamanmu, untukku pemahamanku.

0 Response to "Tabu, ngarai, dan jejak-jejak yang kehilangan bumi"

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel