Cerpen - Nisa, upah, dan Simposium yang samar

cerpen


Jangan bersedih, anggap saja luka ini sebagai upah atas tingkah lakumu!

Baru saja aku ingin melepaskan segala penat di atas ranjang itu, tepat pukul 23:00 kau datang seolah pasien dan menghadapku seakan aku seorang dokter yang selalu sigap mendiagnosis penyakit seorang pasien. Tapi aku sudah lebih dulu meramal bahwa kau datang dengan segala macam perkara yang ingin kau katakan dan akupun tahu sikapmu. Pasti kau tak ingin disalahkan setelah kau menjabarkan satu per satu keluhanmu. Aku sudah terlalu yakin untuk itu. Bukankah seperti itu?


“ayolah.. apa susahnya menjawab”

“kau pasti telah luka dan ini sangat serius bukan?

“Heyy..Seorang dokter sekalipun setidaknya butuh penjelasan singkat dari seorang pasien tentang gejala suatu penyakit”

“Ayolah jangan egois, aku terlalu capek untuk begadang”

Aku memandangnya sinis. Sungguh. Untuk apa coba, dia datang dengan segala genangan dipelupuk matanya, dan hanya berdiam tanpa sedikit penjelasan. Aku sedikit menahan emosiku, kali ini saja. Hanya karena dia seorang wanita, juga karena dia telah terluka lebih dulu. Aku tak mungkin memarahinya hingga membentaknya. Aku ingat bahwa aku punya seorang ibu, juga punya adik wanita, dan sudah pasti aku tak ingin semua yang wanita ini alami, terjadi pada mereka. Pada keluargaku. Makanya aku tak ingin berlaku kasar. Bahkah jika aku harus menahan kantuk yang sudah stadium empat ini.

Aku menatapnya pelan, berusaha memaknai setiap derai air mata yang mengalir lebat melintasi pipinya yang begitu merona. Hampir sejam, aku bahkan tak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada wanita ini. Sempat kuberpikir, bahwa wanita selalu cengeng. Harusnya, jika yang menyebabkan ia menangis adalah ulahnya sendiri, maka apa gunanya berlarut-larut dalam tangis?. Tak ada faedah untuknya, bahkan untukku yang sedari tadi menonton tangisan yang begitu tak karuan ini. Aku tak berani jika mengungkapkan langsung padanya. Pasti tangis ini bukannya reda malah semakin menjadi.

Kelopak matanya perlahan membengkak, nafasnya tersedak-sedak. Bahkan aku pikir, bahwa wanita ini bisa saja sakit parah selepas semua yang ia alami. Aku semakin peka, bahwa hati yang terluka cukup sulit untuk pulih dalam waktu singkat. Makanya aku membiarkan ia lega dulu.

“Nisa” ucapku dengan segala kehati-hatian kepada wanita yang sedari tadi duduk di depanku, dalam ruangan kedap suara ini.

“sekarang coba jelaskan, apa yang sebenarnya terjadi padamu?”

“aku sungguh terluka Zay, sungguh!” jawabnya dengan suara yang agak tersedak-sedak, dan berusaha menyisipkan penjelasan disela-sela isak tangisnya.

“apa yang sebenarnya terjadi padamu?, perihal cinta pula? Hadeeh sudahlah bersikap seperti anak umuran SMP!”

“kau terlalu dewasa untuk itu Nisa”

“Zay.. coba kau pikir, seandainya wanita yang benar-benar kau cintai, ternyata tak begitu peduli denganmu”, “coba semua itu terjadi padamu”

“padaku?, hahaha” aku meledeknya sambil melontarkan segenap tawa yang sudah pasti membuatnya sakit. Pasti sakit.

Wajahnya berubah memerah, kedua tangannya dikepal dan seolah akan memukul pipiku. Kerak baju wanita itu tak lagi beraturan. Kusut dan telah basah oleh air mata yang bercucuran tiada henti. Juga karena dijadikan sebagai pembasuh genangan air yang tiada bosannya meluap dari pelupuk mata dan mengalir sampai ke hilir yang disambut muara berbentuk luka.

“Coba kau pikir-pikir dulu Nis, bukannya lalu kau sempat juga tak peduli dengan lelaki yang kau sebut sebagai pacarmu itu? Barangkali ini adalah upah atas semua ulahmu beberapa waktu lalu” jawabku spontan.

“iya zay aku tahu, tapi.. tak seharusnya dia membalas dengan cara begini” tak begitu jelas suara yang keluar dari mulutnya. sakit yang dihasilkan dari hubungan yang saling balas dendam pasti berujung air mata.

“begini saja, besok kita bertemu dikantin kampus”, “semua pasti tak akan kelar malam ini” aku memberinya saran.

“bagaimana?”

“sekarang kamu balik saja dulu, rendam dalam kesejukan segala perasaan yang sebenarnya akan mencekikmu perlahan”, “besok sebelum bertemu, pastikan bahwa telah kau asingkan luka itu. Sebab, luka akan selalu menolak berdamai dengan sesuatu yang telah menghadirkannya. Kau harus paham Nis!” kali ini aku mengarahkan wanita cengeng itu. Bahkan lebih dari sekedar kewajiban dokter kepada pasien.

Kali ini ia hanya mengangguk-angguk, tak mengeluarkan kata sedikitpun. Mungkin karena efek dari lara yang lebih keras dosisnya dibanding dengan obat berdextro tinggi. Atau juga karena memang perkataanku benar.

Dengan segera ia mengusap seluruh sisi di wajahnya seakan menghilangkan bekas tangis. Merapikan tas kecil yang mungkin isinya adalah peralatan make up dan segera beranjak meninggalkan kisah yang begitu parah bersamaku.

“Hey... jangan lupa besok kita ketemu dikantin, aku akan membantumu membersihkan puing-puing perasaan yang telah terlanjur meronta sangat keras. Teriakku kearahnya yang telah jauh berjalan meninggalkan tempat ini.
***

Akhir-akhir ini aku seperti seorang dokter kepada pasien, ibu kepada anaknya, dan flora kepada fauna. Bahkan kisah semalam bersama wanita yang datang dengan segala bentuk aduan itu, adalah pertemuanku yang kesekian kali dari sekian banyak yang ingin mengonsultasikan segala kehancuran yang mereka alami. Sungguh aneh!. Mungkin mereka tidak sadar bahwa segala sesuatu bahkan luka yang mereka terima itu, layaknya upah. Bahkan luka sekalipun. 

"Ohh iya.. aku sudah janji dengan Nisa pagi ini" gumamku.

Dengan segera aku merapikan kamar tidurku yang begitu berantakan dari semalam dan mempersiapkan segala amunisi sebelum bertemu dengannya. Mungkin sekarang Nisa lagi menungguku di kantin kampus atau mungkin juga dia baru saja bersiap-siap dan menyusun segala pernyataan dan pertanyaan yang masih ada kaitannya dengan kasus semalam. Yang pasti aku tahu sifatnya, Tidak ingin merasa bersalah dan tak ingin disalahkan. Dasar wanita!

semuanya telah siap. aku segera berangkat dengan keyakinan penuh, sekalipun nanti jika telah bertemu, Nisa akan membawaku dan ingin aku terlibat menyusuri belantara hubungannya yang telah keruh, dan jika dimintakan untuk mencari sumber wabah. Aku siap!

***

Aku telah sampai dan bahkan menurutku ini adalah perjalanan ke kampus yang paling cepat dibandingkan dengan biasanya. Ternyata jam segini kantin masih sunyi, bahkan aku belum melihat sosok Nisa, belum melihat masalah-masalah yang harus aku selesaikan. jika dihitung, keseluruhan manusia yang ada dikantin ini masih bisa dihitung dengan jari. sungguh senyap, tak bising. Hanya ada aku yang duduk dimeja bersebrangan dengan meja kasir, laki-laki dan perempuan dipojok kantin sana, dosen berkacamata mungil yang setia menancap dihidungnnya yang duduk tidak jauh dari pendingin kantin ini, dan dua pelayan serta satu kasir yang sibuk dengan pekerjaan mereka. Dan Nisa belum terlihat sampai sekarang.

Tiba-tiba terdengar suara wanita yang persis dengan suara pengaduh yang kutunggu-tunggu. seperti orang yang berbincang-bincang, sepertinya kearah kantin ini. Aku membalikan badan dan menghadap kerah pintu dan memastikan bahwa suara yang terdengar dan semakin mendekat ini adalah suara Nisa.

"Hey Zay...sejak kapan sampai?", "sudah lama menunggu?"
"maaf yaa, aku barusan mampir dulu ke kostnya Mila" ungkap Nisa dengan wajah yang tak seperti semalam, sambil tersenyum tipis.

"Santai.. tak masalah" jawabku sambil tersenyum tipis, anggap saja balasan terhadap senyumnya yang terabaikan dan tak lagi bermuara.

Dengan segera aku menyediakan kursi untuk mereka berdua yang semula berdiri. pandanganku menatapnya tajam dan berusaha menafsirkan perasaannya sekarang, berbekal pengetahuan tentang ilmu psikologi yang seadanya, aku berusaha menafsirkan bahwa wanita ini tengah menyembunyikan luka yang sebenarnya turut ikut bersamanya. mungkin karena lagi bersama temannya, atau mungkin juga wanita memang seperti itu, selalu saja ingin terlihat tegar meski sebelumnya telah hancur berkeping-keping.

"Ehh Zay ini Mila, temanku"

"Ohh iya. aku Zay" tangkisku sambil menjulurkan tangan kearah teman Nisa.

"Aku Mila" jawabnya singkat, seakan tak ingin berbincang lebih denganku, berbeda dengan Nisa. Tapi, bagiku wanita kebanyakan begitu. Tak berlebihan karena baru kenal.

Aku masih saja mencari apa kata yang tepat untuk aku ucapkan sebagai pembuka agar bisa mengarah ke tujuan sebelumnya; membantu wanita ini untuk merenovasi konstruksi dari perasaan yang benar-benar hancur. memperindah malam dengan kerlip lampu agar bisa cerah kembali, bahkan jika bisa secerah pagi ini, tidak masalah.

"Nis, bagaimana dengan masalah itu?, masih butuh bantuan?" ucapku dengan raut wajah yang sedikit menyindir.

Belum sempat pertanyaanku dijawab olehnya, aku merasa ada yang aneh tentang pertemuan ini. dari wajahnya yang seketika berubah memerah, gerak-geriknya yang tak lagi wajar, ditambah lagi dengan isyarat-isyarat yang ia perlihatkan dan sengaja ditujukan padaku. kali ini aku benar-benar bingung dengan wanita ini. "apa yang sebenarnya dia sembunyikan?, Dasar wanita aneh" gumamku dengan rasa kesal dan membayangkan jika dia lelaki, maka sudah aku hajar dan patahkan batang hidungnya.

"Nis.. kamu punya masalah?' tanya Mila dengan segala kebingungan yang terpancar.

Dari pertanyaan Mila, aku langsung menyimpulkan bahwa memang benar Nisa menyembunyikan sesuatu. Bahkan kepada sahabatnya sekalipun.

Kantin yang awalnya sunyi, senyap, telah ramai. Kursi-kursi kantin perlahan penuh, sementara tujuan pembicaraan belum juga sampai. Bahkan belum dibahas sudah banyak teka-teki yang sebenarnya Nisa perbuat. Aku menatapnya tajam, gigi gerahangku saling sentuh. Betapa kesalnya aku dengan wanita seperti ini. Nisa hanya terdiam diri, tak menanggapi. tatapannya berpindah arah kelantai, seolah menyeselali. Tapi, apa guna coba? dia menyesali yang sebenarnya diperbuat. bahkan filingku, hubungannya dengan seorang lelaki yang dahulu akur, kini berantakan. Dan mungkin karena ulahnya pula.
____
Bersambung...
Fanli Untukmu pemahamanmu, untukku pemahamanku.

0 Response to "Cerpen - Nisa, upah, dan Simposium yang samar"

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel