Membunuh Kehilangan

Adakalanya kehilangan tidak bicara perpindahan dimensi. Dari yang ada menjadi kosong dan fana.

Membunuh Kehilangan

Penulis: Mega Waty (nasreenega)

***
Dalam suatu dekade tertentu banyak isi kepala yang bertemu. Lalu dalam sekejap itu juga banyak jiwa terkurung senyap dan akhirnya lenyap. 

Dalam kemeriahan waktu ataupun dalam duka cita atas kehilangan-kehilangan yang baru saja dikenang ingatan. Dalam fase tertentu, kita bertemu dengan orang baru, di sisi lain kita kehilangan temu. 

Perkara kehilangan, bukan menjadi acuan sakit hati terdahsyat sepanjang hayat. Bisa jadi kehilangan lah yang menyatukan akal sehat dengan tempat yang biasa kita anggap sebagai rumah. Melalui kehilangan, kita hanya berpikir segala euforia yang ada dalam genggaman kita. 

Perkara kehilangan, tidak hanya apa yang ada di dalam buaian. Lebih daripada itu. Kehilangan adalah kepulangan yang tidak lagi kita temukan. Bukan semata bicara kepergian. Adakalanya kehilangan tidak bicara perpindahan dimensi. Dari yang ada menjadi kosong dan fana.

Kehilangan bukan hanya tentang fana. Terkadang kosong yang tidak terisi menjadi riuh dan kita telah banyak kehilangan kekosongan itu.

Sebaiknya memang seperti itu, perkara kehilangan jangan merasa semua dalam sebuah genggaman. Jika kehilangan datang kita tak akan pulang dengan luluh lantak. Tidak akan. Kehilangan akan tetap menjadi kehilangan, ada atau tidak adanya kehilangan. Kita tidak akan merasa teramat nelangsa.

Masih belum beranjak dari kehilangan. Dibalik jeruji sunyi tak lagi kita melihat pintu-pintu yang tertutup rapat. Nyaris terkoyak seperti dijarah seluruh pencuri kebisingan malam.

Pada tatapmu yang pilu, semua perspektif beradu dalam satu kepala. Disana kamu memenangkan pertarungan semu. Bahwa bukan pada kehilangan kita berjarak. Melainkan distorsi kebiasaan saat seirama.

Tidak ada yang salah dalam beda. Tidak ada yang kurang dalam jarak. Senjang tak berarti sekat dan jarak dalam kurun waktu tertentu.

Dari sanalah kita dihantarkan kebijaksanaan waktu. Memulihkan ingatan tentang kehilangan tak semudah debu dihapus hujan.

Pada yang demikian kita merasa paling sekarat di dunia ini. Kehilangan tak juga insyaf menorehkan jejak pada euforia kepemilikan. Sejatinya yang milik adalah kepemilikan mutlak itu sendiri. Tidak ada perdebatan lagi setelahnya.

Sesederhana makna kehilangan. Kita meluap atau melebur dalam ingatan yang akan hilang adalah sebuah pilihan. 

Membunuh kehilangan tidaklah semudah menghapus air mata yang jatuh dari kelopak mata yang tersayat pilu.

Melepas kehilangan adalah pilihan. Bahwa tidak ada yang hilang saat tidak ada yang bereuforia dalam otoritas milik. Melebur dengan kehilangan adalah sebuah cara tepat dalam menghancurkan kesedihan dan amarah dalam nuansa perkabungan.
Fanli
Fanli
Untukmu pemahamanmu, untukku pemahamanku.
Link copied to clipboard.